Munir Said Thalib
Munir Said Thalib lahir di Malang, Jawa Timur pada tanggal 8 Desember 1965. Beliau berdarah Indonesia - Arab. Munir sendiri bisa disebut sebagai pahlawa pejuang hak asasi manusia. Munir adalah orang yang sangat biasa dan sederhana. Orang yang sangat bertoleransi tinggi, menghormati nilai-nilai kemanusiaan,anti kekerasan,pantang menyerah dan masih banyak lagi.Ia adalah seorang aktivis yang sangat aktif. Aktif dalam memperjuangkan orang-orang yang tertindas.
Munir merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara, Munir pernah berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya dan ia pun memperoleh gelar sarjananya. Ketika menjadi mahasiswa, Munir sangat dikenal sebagai aktivis dikampusnya. Ia pernah menjadi ketua senat mahasiswa hukum Indonesia pada tahun 1989,anggota forum studi mahasiswa untuk pengembangan berpikir Universitas Brawijaya pada tahun 1988 dan masih banyak lagi.Munir melaksanakan komitmennya dalam bidang hukum dengan cara melakukan pembelaan - pembelaan terhadap sejumlah kasus, terutama terhadap kaum tertindas.
Singkat cerita, Munir harus kehilangan nyawa. Menurut beberapa sumber menyebutkan bahwa tiga jam setelah pesawat GA-974 yang dinaiki Munir take off dari Singapura, awak kabin melaporkan kepada pilot Pantun Matondang bahwa Munir yang duduk di kursi nomor 40 G menderita sakit dan bolak balik ke kamar mandi. Munir pun dipindahkan kesebelah seorang penumpang yang berprofesi sebagai dokter yang berusaha menolongnya dikala itu. Penerbangan menuju Amsterdam membutuhkan waktu 12 jam. Namun 2 jam sebelum mendarat 7 September 2004 pukul 08.10 waktu Amsterdam, Munir dinyatakan meninggal dunia.
Pada tanggal 12 November 2004 polisi Belanda menemukan jejak senyawa arsenikum setelah diotopsi. Hal ini juga dikonfirmasi oleh polisi Indonesia. Masih belum tahu siapa yang telah meracuni Munir,meskipun ada yang menduga bahwa okum tertentu ingin menyingkirkan Munir. Diduga pelakunya adalah Pollycarpus Budihari Priyanto yang merupakan pilot Garuda yang sedang cuti,divonis 14 tahun hukuman penjara. Diduga ia meracuni Munir karena ia ingin mendiamkan pengkrikit pemerintah tersebut. Hakim yang menangani kasus ini menyampaikan bahwa Pollycarpus telah menerima sebuah telepon yang terdafatar oleh agen intelijen senior tetapi tidak menjelaskan lenih lanjut. Presiden SBY telah membuat tim investigasi independen. Namun hasil penyelidikan tersebut tidak pernah disampaikan pada publik.
Jenazah Munir di makamkan di taman makam umum kota Batu. Munir meninggalkan seorang istri yang bernama Suciwati dan dua orang anak. Sejak 7 September 2005 kematian Munir dijadikan sebagai Hari Pembela HAM Indonesia. Hal ini disampaikan oleh para aktivis HAM sebagai bentuk mengenang dan menghar
gai jasa-jasa yang telah diberikan Munir kepada Indonesia.
Munir merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara, Munir pernah berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya dan ia pun memperoleh gelar sarjananya. Ketika menjadi mahasiswa, Munir sangat dikenal sebagai aktivis dikampusnya. Ia pernah menjadi ketua senat mahasiswa hukum Indonesia pada tahun 1989,anggota forum studi mahasiswa untuk pengembangan berpikir Universitas Brawijaya pada tahun 1988 dan masih banyak lagi.Munir melaksanakan komitmennya dalam bidang hukum dengan cara melakukan pembelaan - pembelaan terhadap sejumlah kasus, terutama terhadap kaum tertindas.
Singkat cerita, Munir harus kehilangan nyawa. Menurut beberapa sumber menyebutkan bahwa tiga jam setelah pesawat GA-974 yang dinaiki Munir take off dari Singapura, awak kabin melaporkan kepada pilot Pantun Matondang bahwa Munir yang duduk di kursi nomor 40 G menderita sakit dan bolak balik ke kamar mandi. Munir pun dipindahkan kesebelah seorang penumpang yang berprofesi sebagai dokter yang berusaha menolongnya dikala itu. Penerbangan menuju Amsterdam membutuhkan waktu 12 jam. Namun 2 jam sebelum mendarat 7 September 2004 pukul 08.10 waktu Amsterdam, Munir dinyatakan meninggal dunia.
Pada tanggal 12 November 2004 polisi Belanda menemukan jejak senyawa arsenikum setelah diotopsi. Hal ini juga dikonfirmasi oleh polisi Indonesia. Masih belum tahu siapa yang telah meracuni Munir,meskipun ada yang menduga bahwa okum tertentu ingin menyingkirkan Munir. Diduga pelakunya adalah Pollycarpus Budihari Priyanto yang merupakan pilot Garuda yang sedang cuti,divonis 14 tahun hukuman penjara. Diduga ia meracuni Munir karena ia ingin mendiamkan pengkrikit pemerintah tersebut. Hakim yang menangani kasus ini menyampaikan bahwa Pollycarpus telah menerima sebuah telepon yang terdafatar oleh agen intelijen senior tetapi tidak menjelaskan lenih lanjut. Presiden SBY telah membuat tim investigasi independen. Namun hasil penyelidikan tersebut tidak pernah disampaikan pada publik.
Jenazah Munir di makamkan di taman makam umum kota Batu. Munir meninggalkan seorang istri yang bernama Suciwati dan dua orang anak. Sejak 7 September 2005 kematian Munir dijadikan sebagai Hari Pembela HAM Indonesia. Hal ini disampaikan oleh para aktivis HAM sebagai bentuk mengenang dan menghar
gai jasa-jasa yang telah diberikan Munir kepada Indonesia.

Komentar
Posting Komentar